Gerakan Pemulihan Daerah Aliran Sungai

Bencana-bencana hidrologis (yang berkaitan dengan air), bertahun-tahun seakan menjadi rutinitas tahunan. Setiap tahun kita mengalami musim banjir dan tanah longsor.  Setiap tahun juga kita mengalami bencana kekeringan, kelangkaan air.  Bencana itu menjadi penyebab jatuhnya korban jiwa, rusaknya infrastruktur, kerugian finansial, dan bahkan menjadi penyebab penurunan kualitas hidup dan kualitas manusia.   Setiap tahun, kita mengalami kerugian finansial ratusan milyar akibat banjir.  Kekeringan menyebabkan gagal panen yang merugikan petani, menyusahkan hidup masyarakat. Kualitas air yang buruk menurunkan kenyamanan hidup dan bisa berdampak jangka panjang bagi kualitas manusia Indonesia.

Bencana hidrologis adalah adalah muara dari rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS yang sehat ialah yang mampu menyimpan air sehingga tidak terjadi banjir di musim penghujan, dan mampu menyediakan air di musim kemarau. DAS-DAS kita saat ini sebagian tidak mampu menjalankan fungsi hidrologis tersebut. Di saat musim hujan ia tidak mampu menyimpan air menjadikan air tanah dan mata air di musim kemarau. Artinya DAS-DAS kita tidak dalam kondisi sehat.

Salah satu wujud rusaknya sebuah DAS ialah rusaknya Daerah Tangkapan Air (DTA)nya atau bagian hulunya.  Banyak DAS kita bagian hulunya berupa lahan kritis atau tidak tertutup vegetasi sebagai mana semestinya. Agar mampu menyerap dan meyimpan air, DTA sebuah DAS harusnya berupa tutupan vegetasi hutan. Saat ini banyak DAS-DAS kita yang bagian hulunya gundul, atau digunakan untuk kegiatan pertanian semusim.

Solusi atas lahan kritis tentu saja Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) baik melalui upaya revegetasi maupun pembangunan-pembangunan sarana pencegah erosi-sedimentasi. RHL sudah dilakukan sejak berpuluh-puluh tahun. Tetapi, rusaknya DTA masih belum berkurang dan bencana hidrologis tetap terjadi.  Memang, ada faktor-faktor lain selain kritisnya DTA yang menjadi penyebab bencana hidrologis, akan tetapi setidaknya apabila DTA sebuah DAS sudah pulih vegetasinya semestinya fungsi DAS lebih membaik.Berangkat dari arahan itulah maka diperlukan sebuah Gerakan Nasional untuk bersama-sama memulihkan DAS.  Kuncinya tentu koordinasi lintas sektor kemudian penyusunan Rencana Pengelolaan DAS Terpadu yang disusun bersama, dipatuhi bersama dan diinternalisasikan ke dalam  program pembangunan sektor dan daerah.

Tema Gerakan Nasional Pemulihan DAS ialah: “DAS Sehat Sejahterakan Masyarakat”.  Indikator dari sebuah DAS yang sehat ialah, tersedianya air dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk berbagai keperluan. Indikator lain ialah terjaganya kesuburan tanah dan produktifitas lahan, serta berkurangnya bencana-bencana hidrologis seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan. Semua ini adalah prasyarat untuk masyarakat yang sejahtera. Dengan demikian, bila DAS sehat maka masyarakat yang hidup di DAS tersebut akan sejahtera.

KLHK Sosialisasi Tanam 25 Pohon Selama Hidup di Cianjur

Menteri LHK melakukan kunjungan kerja pada tanggal 3 November 2018 di Desa Wangun Jaya, Cianjur, Jabar dalam rangka pengendalian kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Menteri LHK mengajak seluruh warga sekitar DAS Citarum untuk menyelamatkan kerusakan DAS dan perbaikan lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut Menteri LHK didampingi Dirjen PDASHL mengajak seluruh masyarakat untuk menanam sekurang-kurangnya 25 batang pohon selama hidup serta memelihara pohon tersebut. Dengan adanya penanaman pohon di daerah hulu, diharapkan DAS Citarum dalam pengendalikan kerusakan DAS seperti banjir dan tanah longsor mulai dari hulu hingga hilir dapat dihindari dan berkurang.

Upaya KLHK memperbaiki dan mengendalikan kerusakan DAS yaitu dengan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL). Salah satu upaya RHL di Kabupaten Cianjur ialah melakukan pembangunan model hutan serbaguna di Desa Wangun Jaya Cianjur. Hutan serbaguna dalam pengertiannya adalah hutan yang menggabungkan dua fungsi yaitu fungsi perlindungan dan produksi yang didominasi oleh pohon-pohon yang menghasilkan buah, jasa lingkungan, hasil hutan bukan kayu (HHBK) lainnya.

Rayakan HUT RI ke-73, KLHK Ajak Tanam Mangrove

Dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-73 tanggal 17 Agustus 2018 dan memperingati Hari Mangrove Internasional pada tanggal 26 Juli 2018, Kementerian LHK melalui Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung (PDASHL) melakukan kegiatan tanam mangrove di kawasan Pantai Indah Kapuk, Blok Elang Laut, Jakarta. Tak hanya dihadiri oleh Karyawan/ti lingkup Ditjen PDASHL, namun acara ini dihadiri oleh sejumlah anggota Pramuka Saka Wanabakti, Komunitas Sahabat Anak DKI Jakarta, serta anggota Karang Taruna Cimanggis.

Acara ini dibuka langsung oleh Dirjen PDASHL Kementerian LHK IB. Putera Parthama. Dalam sambutannya, beliau mengajak bersama-sama menumbuhkembangkan semangat dan kesadaran generasi muda untuk memelihara dan memulihkan ekosistem mangrove. Selain itu, agar generasi muda membantu mensosialisasikan program satu orang tanam 25 pohon selama hidup. “Satu batang pohon yang anda tanam berarti anda telah ikut menyelamatkan dunia” tegas beliau.

800 bibit mangrove ditanam serentak oleh anak-anak, diiringi Dirjen PDASHL sebagai pembuka acara penanaman. Riuh pikuk bercampur rasa bahagia tercurah pada anak-anak saat menanam mangrove. Anak-anak sangat antusias menanam hingga berebut tempat, serta keinginan untuk mencoba menanam mangrove di tempat yang lumpur dan licin.

Acara tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, serta mengajak generasi muda atau lebih disebut anak zaman now untuk semangat serta memberikan kesadaran bahwa betapa pentingnya menanam 1 pohon untuk kehidupan anak cucu kita nantinya.

KLHK Ajak Cintai Hutan dan Lingkungan Melalui PERTIKAWAN

“Cinta Hutan, Lestari Lingkungan” menjadi tema penyelenggaraan Perkemahan Bakti Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru Tingkat Regional Sulawesi dan Maluku Tahun 2018, yang akan berlangsung selama 5 hari, mulai tanggal 1 s/d 5 Agustus 218, di Tonasa Park Kab. Pangkep.

Kegiatan Perkemahan Bakti Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru atau dikenal dengan PERTIKAWAN, dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bapak Bambang Hendroyono sebagai Ketua Pembina Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru. Saat pembukaan (01/08/2018) disampaikan tentang pentingnya mencintai hutan demi terwujudnya lingkungan yang lestari.

Pada kesempatan yang sama, Bapak Bambang Hendroyono melakukan penanaman bibit pohon Eboni di lokasi PERTIKAWAN. Aksi tanam pohon ini serentak diikuti oleh seluruh jajaran instansi yang hadir, mulai dari UPT.KLHK, Pemprov Sulsel hingga Pemda Kabupaten Pangkep. Adapun jenis bibit yang ditanam saat momen pembukaan kegiatan PERTIKAWAN adalah Eboni, Bitti, Mahoni, Pulai, Cemara Laut, Saga dan Asam.

Sesuai dengan tema PERTIKAWAN kali ini “Cinta Hutan, Lestari Lingkungan”, maka serangkaian acara tidak lepas dari berbagai aksi untuk membangkitkan rasa cinta dan peduli terhadap hutan. Tak lain agar 700 tunas bangsa yang merupakan Pramuka Penegak dan Pandega yang hadir dalam PERTIKAWAN  dapat menjadi kader-kader terbaik penyelamat hutan dan pelestari alam-lingkungan.

Lokasi PERTIKAWAN yang berada di Desa Balocci, Tonasa, Kab.Pangkep merupakan kawasan Tahura yang dikenal dengaan hamparan keindahan Karstnya. Melalui kegiatan PERTIKAWAN, para peserta Pramuka diajak untuk melihat langsung wujud Ekosistem Karst sekaligus melakukan upaya pelestarian Ekosistem Karst.

Aksi penanaman 1.500 pohon dilakukan pada areal seluas 2 Ha dengan jenis tanaman : Jamblang, Gmelina, Mahoni, Cemara Laut, Kesambi, Bidara, Asam, Kayu Kuku, Bitti dan Jati diharapkan akan menjadi Monumen Pelestarian Ekosistem Karst yang dipersembahkan oleh peserta PERTIKAWAN Regional Sulawesi Maluku dan diharapkan dapat menjadi model percontohan sehingga menumbuhkan kepedulian semua pihak terhadap kelestarian ekosistem karst.

Dalam sambutan pembukaan Menteri KLHK yang disampaikan oleh Sekjen KLHK Bambang Hendroyono (01/08/2018) disampaikan juga bahwa masyarakat diharapkan menanam 25 pohon selama hidup sebagai upaya penyelamatan hutan dan mewujudkan Masyarakat Gemar Menanam. Sinergi dengan hal tersebut BPDASHL Jeneberang Saddang dalam stand pamerannya menyediakan bibit gratis pada peserta PERTIKAWAN dan juga masyarakat sekitar area perkemahan.

Selain aksi penanaman, juga disampaikan informasi pengetahuan kepada para Pramuka melalui pendalaman materi Krida Saka Wanabakti yakni Tata Wana (Pengukuran dan Pemetaan Hutan), Bina Wana (Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman), dan Reksa Wana (Pengamatan Satwa). Selain itu, rangkaian acara lainnya seperti pameran produk-produk hasil hutan, peralatan/perlengkapan penyelamatan-pengelolaan hutan juga ikut memeriahkan acara PERTIKAWAN 2018.

Dengan terselenggaranya PERTIKAWAN 2018 tingkat regional Sulawesi Maluku selama 5 hari, diharapkan mampu menumbuhkan benih-benih cinta kepada hutan dan peduli pada kelestarian lingkungan dalam diri para tunas bangsa .

 

-Kontributor BPDASHL Jeneberang Saddang-

Imbal Jasa Lingkungan dalam Kegiatan “Urun Daya” Pengendalian Kerusakan Perairan Darat

 

 

Galeri Video

Kalendar

January 2019
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

LOGIN